Bagaimana memenej “anak kandang”?

Istilah “anak kandang” adalah sebutan untuk perawat burung di rumah kita, atau juga bisa perawat burung di tempat yang berbeda. Yang jelas, dia bertugas merawat burung-burung kita.
Di sini saya sampaikan beberapa tips untuk memenej “anak kandang” sehingga kita mempunyai “anak kandang” yang baik seperti yang kita inginkan.

1. Rekrutmen.

Untuk mencari “anak kandang” merupakan pekerjaan gampang-gampang susah. Sebab, mereka harus memiliki beberapa hal yang merupakan syarat mutlak. Syarat mutlak tersebut:

a. Sabar telaten
Sabar dan telaten, sudah sangat jelas. Soalnya kalau tidak sabaran, kalau menangkap burung bisa-bisa berprinsip “tangkap hidup atau mati”. Dengan prinsip itu, alih-alih mengambil sprayer berisi cairan shampo atau perangkap, dia malah mengambil ketapel atau senapan angin… dessss …”Modar kowe!! (mati kamu),” begitu katanya sembari tertawa-tawa karena sukses menegakkan prinsip “hidup atau mati”….
Bisa juga karena tidak sabaran, maka kalau mengaramba burung, tidak satu persatu tetapi empat sekaligus biar cepat selesai… byurrrrrr. Dijamin ramai banget!!

b. Sayang hewan
Sayang hewan, ya kalau tidak sayang hewan, bisa-bisa kalau ada burung sakit langsung diberi antibiotik tidak dioles di leher, tetapi langsung disuntikkan pakai spet 2 mm-an. Tidak di leher, tapi langsung di mata…. Tobaaat.

c. Tidak suka hura-hura, keluyuran atau ngrumpi ke tempat lain.
Tidak suka hura-hura, keluyuran atau ngrumpi juga sudah pasti. Kalau suka hura-hura, maka ketika disuruh memutar masteran malah memutar dangdut house music-mix…. Burung juga bakal kedinginan karena setelah “anak kandang” lupa memasukkan ke rumah, malah ditinggal begadang. Karena bangun jam 10, semua burung sudah keleleran… Yak an?

d. Berpengalaman merawat burung merupakan nilai tambah.
Berpengalaman, itu lebih bagus. Ya minimal kalau kita tidak bisa mengajarkan begitu dia kita pekerjakan, dia tahu jenis pakan tertentu untuk burung tertentu. Jangan sampai seperti “anak kandang” kawan saya di Surabaya (kalau belum ganti nama, dia sering dipanggil Gombest, hehehe). Ceritanya, saya terheran-heran kawan satu ini dapat ilmu dari mana lha kok ketika saya mampir ke rumahnya melihat LB diberi kates…. Itu sih masih lumayan karena ada hal yang lebih yahud: kenari dikasih voer F**** hijau. Weh edan tenan, begitu pikir saya. “Wah ya itu Om, dasar perawat baru,” kata Om Gombest sebelum saya melanjutkan tertawa ngerol terpingkal-pingkal.

e. Mau taat aturan yang diberikan pemilik burung dan tidak sok pinter.
Mau taat aturan yang diberikan pemilik burung juga mutlak. Jangan sampai setelan pakan jangkrik 3-3 pagi sore diubah semaunya karena (sok pintar) beranggapan bahwa menu itu kurang dan sebagainya. Juga jangan sampai yang seharusnya memberi antibitoik cuma setetes kok diberi 8 tetes; alasannya “biar cepat sehat…”. Wah, ya cepat KO itu sudah pasti, ya kan Om?

f. Sepakat dan konsekuen dengan upah yang kita janjikan.
Ya, jangan sampai suatu saat ketika dia perlu rokok lantas mengambil uang jatah pembelian kroto. Atau juga pisang jatah cucak rowo kita disikat habis masuk perutnya tanpa sisa dengan alasan uang belanja kurang. Weleh-weleh….

2. Manajemen

A. Kontrol rutin
Kontrol perlu dilakukan secara rutin dengan waktu yang tidak perlu dijadwal. Artinya, setiap saat ada kesempatan, kita lihat satu persatu burung-burung kita. Perhatikan cara dia menggantangkan ke cantelan (pas atau tidak), ketersediaan air, pakan dan kebersihannya; juga keausan/kekuatan kandang dsb. Kalau ada yang tidak pas, segera beritahu, mengapa harus pas, mengapa harus bersih dan mengapa takarannya harus seperti yang pernah kita sampaikan dan sebagainya.
Jangan segan-segan kita sendiri melakukannya dan minta dia memperhatikan bagaimana cara yang pas untuk melakukan apa yang sedang kita kerjakan. Jangan “ngebozzy” alias asal perintah tanpa petunjuk. “Wah kalau cuma ngomong doang, saya juga bisa bos,” begitu dia berkata dalam hati.

B. Kontrol setelan pakan
Untuk mengontrol setelan pakan, luangkan waktu sesekali untuk melihat dia memberi pakan pada pagi hari. Bagaimana dia memberi porsi dan merk/jenis voer misalnya untuk masing-masing murai baru yang mungkin harus dibedakan antara satu dengan lainnya. Bagaimana dia membersihkan kroto, memisahkan kaki jangkrik dari badannya; apakah perlu dihilangkan kepalanya atau tidak, dsb-dsb.

C. Kontrol uang belanja pakan
Uang sisa Rp. 1000 mungkin tidak berarti bagi Anda, tetapi tetap kita tanyakan kalau ada uang pengembalian. Tidak perlu kita minta. “Ya sudah bawa dulu, untuk tambahan beli besuk,” katakan saja begitu. Atau, sesekali kita perlu mengecek harga-harga pakan di kios burung yang biasa “anak kandang” beli.
Kontrol demikian perlu dilakukan agar “anak kandang” tidak terbiasa dengan “menilap” uang yang barangkali kecil untuk Anda. Kalau terbiasa, dia akan meningkatkan model dan besaran korupsi. Kalau suatu saat ketahuan dan tidak bisa mengubah kebiasaan (sulit sepertinya), ya mau tidak mau kan harus di-PHK. Nah, kita sendiri yang repot karena tidak gampang juga mencari “anak kandang” pengganti.

D. Rahasiakan “menu” andalan.
Ini sangat penting. Kalau Anda mempunyai suatu cara jitu untuk menyetel suara murai batu sehingga bisa tampil bagus misalnya, pakai saja untuk diri sendiri (tetapi kalau di-share di sini, itu wajib hukumnya hehehehe…). Untuk setelan-setelan khusus itu, harus kita lakukan sendiri.
Taruhlah kita harus menambah porsi jangkrik atau ulat hongkong atau ulat kandang untuk burung tertentu; atau menambahkan vitamin jenis tertentu untuk burung tertentu misalnya, maka lakukan penambahan ketika si “anak kandang” kita minta membeli rokok atau mengambilkan sangkar dsb-dsb; singkat kata dia tidak melihatnya dan hanya kita yang memegang rahasia itu.
Artinya, untuk perawatan harian, “anak kandang” diminta saja memberikan “pakan standar”, dan selanjutnya adalah urusan kita.
Untuk pemberian jenis-jenis vitamin tertentu atau obat tertentu, maka setelah membeli vitamin merek tertentu, gantilah wadahnya atau minimal copot semua labelnya dan tandai dengan spidol merah, kuning, hijau atau apa pun. Jadi ketika kita minta dia mengambilkan atau memberikan vitamin tertentu, bilang saja ”Itu yang botol kuning…” atau “Itu yang botol hijau…” dsb.
“Kerahasiaan dapur” tetap harus dijaga karena kita adalah pemilik “perusahaan”. Kalau suatu saat “anak kandang” kita dibajak orang karena silau melihat keelokan burung-burung kita, ya biarlah “anak kandang” mencari penghasilan yang lebih tinggi tetapi “rahasia dapur perusahaan” kita tetap terjaga.
Untuk situasi dan kondisi tertentu, pastilah ada rahasia tertentu yang kita share ke “anak kandang”. Sebab, belum tentu kita bisa menyetel sendirian (karena alasan waktu dsb) atas semua burung-burung andalan kita.

Kasus khusus:
Ada beberapa kasus khusus yang tentunya harus kita hadapi secara berbeda. Banyak dari kita tertarik merekrut “anak kandang” karena memang kita lihat dia pintar menyeting suara dan manajemen pakan burung-burung tertentu, dll.
Kalau kita sudah berani membayar mahal untuk dia, maka tetapkanlah “target” tertentu untuk burung-burung andalan kita. Misalnya kita punya murai batu bagus dan kondisinya sedang ngedrop, coba tanyakan kapan kira-kira bisa tampil bagus. Kalau dia menjawab “sebulan lagi”, maka sebulan kemudian adalah waktu pembuktian. Kalau memang OK, berarti “anak kandang” kita memang OK. Kalau gembos, tanyakan penyebabnya. Tetapkan target lagi, dst. Kalau sampai tiga kali keluar “surat peringatan” kok target tidak pernah tercapai, ya jangan segan-segan untuk mem-PHK atau “menurunkan target”. Konsekuensi bagi “anak kandang” ya turun gaji….
Pastilah banyak kasus khusus yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Kalau menghadapi persoalan khusus seperti itu, jangan segan-segan untuk sharing di KM. Pasti banyak kawan senang membantu.
Semoga bermanfaat.

Salam,
Duto Sri Cahyono
[Maaf titip pesan: Kalau Anda, saudara Anda, kenalan atau rekan Anda selalu gagal mendapatkan pekerjaan, coba deh ikuti konsultasi menembus dunia kerja bersama tim saya, Tim GG. Gratis…tis. Klik saja di sini.]

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: