Introspeksi diri kicaumania memasuki 2009

Apa makna tahun baru bagi seorang kicaumania? Banyak. Antara lain adalah harapan-harapan baru.

Bagi kicaumania yang semata-mata memelihara burung sebagai hobi, tentu berharap koleksinya semakin lengkap dan semuanya gacor owor-owor. Bagi kicaumania pelomba, tentu harapannya semakin banyak burung yang moncer di lapangan. Bagi kicaumania penangkar, pasti berharap bisa nambah kandang; piyikan bertambah banyak. Bagi kicaumania yang berbisnis burung, pasti berharap dagangan lancar dan keuntungan tambah banyak, tambah pelanggan. Dan sebagainya dan sebagainya.

Harapan memang terwujud, bisa tidak. Semuanya tergantung dari usaha kita dan izin dari Yang Kuasa. Terlepas dari harapan-harapan kita, sebagai kicaumania kita perlu berbenah. Apa yang perlu dibenahi?

Untuk kicaumania penghobi:

1. Lihat kembali semua momongan kita.
Perhatikan satu persatu. Pertanyakan pada diri sendiri apakah burung tertentu itu lebih banyak memberi kita kesenangan, “rasa nyess” di hati, ataukah malah membuat kita stres? Stres bisa jadi karena burung itu sedemikian sulit kita setting dan berkicaua sebagaimana yang kita harapkan. Lihat juga, apakah burung-burung tertentu justru menambah beban karena harus setiap saat mendapat perlakuan istimewa? Harus full kerodong, full EF yang tidak setiap hari ada di pasaran, dan juga harus selalu dipisahkan dari burung ini-itu atau malah harus digandeng dengan burung ini-itu?

Kalau burung tertentu justru mendatangkan stres, sudah waktunya kita memutuskan apakah burung tertentu itu layak kita pertahankan. Tidak ada salahnya kalau kita mulai berpikir untuk menukar-tambahkan dengan burung lain. Atau sekalian saja jual, entah berapapun harganya.

Kalau kita sudah siap berhobi burung, jangan pernah berpikir untung atau rugi. Bisa jadi kita beli Rp. 1 juta, tetapi karena burung malah membuat stres, dihargai orang mentok Rp. 500.000 misalnya, ya jangan merana berkepanjangan. Lepas saja. Habis perkara. Ada lagi, bisa jadi kita membeli burung tertentu dengan harga mahal, tetapi ketika dijual tidak ada yang berminat. Bagaimana perasaan kita? Kalau merasa rugi dan mencak-mencak di dalam hati, maka kita bukan penghobi burung sejati.

Harus kita sadari bahwa burung yang kita beli dengan harga mahal, suatu saat bisa drop dan bisa menjadi tidak lagi “bagus”. Burung adalah barang bernyawa yang sangat peka terhadap perubahan sikon, sesedikit apapun. kita salah sedikit saja dalam mensettingnya, hasilnya bisa bertolak belakang dengan yang kita harapkan.

Juga harus kita sadari bahwa kekalahan utama seorang penghobi justru pada nafsunya sendiri. Ketika kita melihat “burung bagus”, kita akan mengejarnya dengan cara apapun. Tetapi kita akan segera lupa “burung bagus” itu ketika kita melihat “burung bagus” yang berikutnya. Begitu seterusnya sampai kita menumpuk “burung bagus” yang tak lama kemudian telah berubah menjadi “burung jelek”.atau “burung membosankan” di mata kita. “Burung-burung jelek” itu akhirnya akan kita jual untuk mengejar “burung bagus” baru.

Nah, kalau dalam hal ini kemudian kita main total-totalan uang yang sudah kita belanjakan, maka yakinlah bahwa kita sudah kehilangan uang yang sedemikian banyak hanya untuk hobi kita.

Kemana semua uang itu pergi? Secara kasat mata, uang itu masuk ke kantong para pemilik burung yang kita beli. Bisa jadi kita merasa ditipu atau dibohongi oleh pemilik burung lama, tetapi cobalah kita pahami bahwa kita bermain dengan barang bernyawa yang tidak selamanya mau kita setir seperti kemauan kita.
Jadi kalau pertanyaan “kemana semua uang itu pergi”, maka secara hakiki, jawabannya adalah “ditelan oleh nafsu kita sendiri”. Kalau kita menyesalinya berkepanjangan, maka berhentilah menjadi penghobi burung.

2. Belajar menahan diri dalam membeli momongan baru.
Perlu kita sadari bahwa nafsu memiliki “burung bagus” tidak akan pernah berhenti selama kita menjadi penghobi burung. Untuk itulah, kita hanya perlu belajar menahan diri. Dalam kaitan ini, saya pengin sekali menekankan apa yang pernah saya tulis mengenai “mencegah hobi burung menjadi belenggu” yang terutama sekali saya tujukan untuk pemula. Tetapi kalau kita jujur, maka hal itu juga berlaku untuk penghobi tingkat lanjut. Ya, sudah saatnya kita keluar dari belenggu nafsu dalam menjalankan hobi burung. Kapan? Sesegera mungkin.

Untuk para kicaumania pelomba
Kalau kita sudah siap menjadi kicaumania pelomba, maka harus kita sadari bahwa “di atas langit masih ada langit”. Boleh jadi kita tidak setuju dengan kondisi lomba burung saat ini, misalnya soal penjurian. Kita bisa jadi mencak-mencak karena merasa diperlakukan tidak adil. Tetapi terlepas dari semua itu, janganlah kita merasa bahwa burung kita adalah paling hebat. Sehebat apapun burung kita, pasti dia tidak akan bisa stabil forever.
Selain menyadari bahwa “di atas langit masih ada langit”, kita juga harus paham betul apa itu lomba dan bagaimana seluk beluknya. Untuk itu, ada baiknya ditengok lagi postingan saya tentang mempersiapkan burung untuk lomba, sehingga Anda benar-benar siap datang ke arena lomba.

Untuk para kicaumania penangkar
Kita bermain dengan barang bernyawa. Itu saja prinsipnya. Kita menghadapi seribu burung, maka kita menghadapi seribu karakter nyawa. Carilah teknik-teknik terbaru, misalnya dalam pemilihan bibit, penjodohan, persilangan, perkandangan, pengaturan ransum pakan, perawatan harian, perawatan piyik sampai pembesaran.

Semua itu bisa didapatkan dari kunjungan ke penangkar-penangkar lain ataupun dari diskusi di berbagai kesempatan dan forum.
Jangan pernah merasa hebat sehingga menutup diri dari wawasan baru yang bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

Lebih dari itu, sadari pula untuk tujuan apa kita menangkar. Apakah semata-mata karena hobi ataukah untuk tujuan bisnis? Kalau untuk tujuan hobi, tidak ada salahnya kita bereksperimen menangkar berbagai jenis burung, dengan berbagai teknik eksperimental. Kalau untuk tujuan bisnis, lihatlah apakah seandainya kita berhasil dalam penangkaran nanti, produk kita masih diterima pasar atau tidak; bisa bersaing harga dan kualitas dengan penangkar lain atau tidak, dan sebagainya.

Untuk para kicaumania pebisnis burung
Bisnis memang bisnis, tetapi lebih dari itu, pebisnis yang baik adalah pebisnis yang bisa dipercaya.
“Bisa dipercaya” itu sangat banyak artinya. Untuk memudahkan kata, maka pastikan bahwa ketika kita menjual burung kepada orang tertentu dengan harga tertentu, maka harga itu adalah harga wajar. Apa yang disebut wajar? Wajar adalah bahwa kita pun berani untuk membeli lagi burung itu lagi jika si pembeli burung berniat menjual lagi burung dari kita. Tentu saja di sana ada potongan, tetapi potongan itu hanya sewajarnya, misalnya tidak dihitung ongkos kirimnya, atau kalau misalnya jual beli lewat orang lain, ya sudah dikurangi dengan fee untuk para broker (makelar)-nya. Tentu saja “berani membeli lagi” itu dengan syarat kondisi burung tidak jauh berbeda dengan kondisi ketika kita menjualnya.

Selain “bisa dipercaya”, maka kicaumania pebisnis burung hendaknya memberikan “pelayanan purna jual”. Termasuk di sini adalah selalu memantau kondisi burung yang pernah kita jual dengan terus bertanya kepada si pembeli mengenai kondisi terakhirnya. Pelayanan purna jual tentunya tidak harus dalam jangka waktu yang lama. Katankanlah sebulan, maka itu adalah waktu yang cukup karena dalam waktu selama itu bisa jadi burung telah berubah karakter dan kebiasaan yang pasti sudah di luar kontrol kita sebagai penjual.

Kalau pembeli menyampaikan komplain lebih dari waktu sebulan sejak dia menerima burung misalnya, maka patut dipertanyakan maksud dari si pengomplain. Apakah itu memang burung tidak sesuai yang kita gambarkan, ataukah karena dia tidak bisa merawat seperti yang seharusnya (bisa jadi dia punya tips yang lebih aduhai, tetapi justru tidak tepat untuk burung yang dibeli dari kita dsb), ataukah sekadar ingin uang kembali karena sudah bosan dan sebagainya.

Selain hal di atas, maka kicaumania pebisnis burung hendaknya selalu jeli melihat pasar. Kita harus tahu tren penghobi burung di kota/daerah tertentu yang tentu berbeda dengan daerah lain. Jangan bosan untuk selalu memantau harga pasaran burung di berbagai kota dalam berbagai situasi.

Demikian kira-kira apa yang bisa saya sampaikan dalam menyambut tahun baru 2009. Tentu saja apa yang saya sampaikan sekadar “catatan” dari saya meskipun judulnya adalah “introspeksi diri”, yang bisa jadi sangat tidak pas dan tidak tepat dalam pemikiran kawan-kawan.
Mohon diluruskan kalau ada yang melenceng, mohon dikoreksi kalau ada yang salah.

Selamat tahun baru 2009
Salam,
Duto Sri Cahyono
Solo

(Tulisan dengan versi sedikit berbeda juga saya kirim untuk http://www.kicaumania.org)

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s