Mengapa saya anti umbaran untuk burung lomba?

Ada salah seorang KMer’s yang mengirim SMS ke saya mempertanyakan “Tips Om Kicau Hari Ini” di blog ini. Kebetulan tips yang saya turunkan dalam bentuk animasi adalah tulisan “Burung main umbaran? Sekali jalan setelah itu bubar… jangan melatih penyanyi seperti kita melatih petinju”…

Oleh karena itulah saya menulis hal ini. Ya bisa jadi tulisan ini akan mengundang kontroversi. Tetapi ya mangga, namanya saja ya pendapat, siapa saja boleh mendebat.

Juga, bisa saja ini adalah tulisan kelanjutan dari postingan saya mengenai “8 Dari 10 Jawara tak mengenal umbaran”.

Sebelum saya memulai tulisann ini, saya hanya ingin menegaskan asumsi mengenai perawatan burung yang perlu dilakukan secara konsisten dan berkesinambung. Untuk tulisan mengenai hal itu, bisa dilihat di sini .

Saya anti-umbaran karena banyak pengalaman menunjukkan bahwa pengumbaran tidak membuat burung bisa tampil konsisten. Banyak burung hasil umbaran malah terlalu banyak lagak di arena lomba tetapi miskin suara. Ini persis seperti petinju, yang banyak gerak main pukul dan labrak tetapi mulutnya “mingkem” (tertutup rapat), Mengapa tertutup rapat? Karena kalau mulut terbuka, gigi bakal rontok saat kena upper cut…. jroot!! Kalau burung main labrak dan gebrak, ya akhirnya cuma bergabrusan dengan “ring” yang namanya jeruji sangkar….

Mengapa burung tidak bisa tampil bagus di lomba?

1. Pengumbaran membuat burung kuat di otot sayap

Ketika burung di umbaran dan kemudian disuruh terbang kesana kemari dengan cara digoda kanan-kiri, dia hanya memperkuat otot sayap dan napas. Burung kicauan tidak relevan untuk dilatih main otot ketika sudah besar. Lain masalahnya ketika dia dalam masa pertumbuhan di penangkaran-penangkaran yang memang mutlak harus diumbar sehingga otot-otot di seluruh tubuh berkembang maksimal.

Ini juga lain misalnya dengan burung yang selama hidupnya sangat mengandalkan kekuatan sayap untuk mempertahankan hidup. Burung-burung seperti ini, biasanya bukan burung kicauan. Salah satu contohnya adalah burung bangau. Burung bangau memerlukan kekuatan otot untuk melakukan migrasi dari satu daerah penghasil pakan ke daerah di mana dia selamanya hidup berkembang biak (biasanya menetap).

Burung kicauan, di alamnya sendiri, tidak ada yang memerlukan migrasi dari satu wilayah ke wilayah lain untuk mempertahankan hidup.

Dia biasanya hanya menetap di suatu daerah dan berikembang biak dengan mencari makan (serangga, ulat, cacing, buah-buahan kecil atau juga bunga-bungaan) di sekitar mereka tinggal. Begitu dapat tangkapan dan kenyang dia akan bertengger di dahan pohon dan mulai bernyanyi. Saat itulah dia yang burung jantan berlatih kepiawaian berkicau, memperkuat otot tenggorokan dan pita suara untuk bisa “mengatasi” pejantan sejenisnya dan menarik minat lawan jenis.

Ketika burung macam ini dirawat pola umbaran (apalagi sampai harus ngos-ngosan tiap hati terbang memutar puluhan bahkan ratusan kali di kandang umbaran) apa yang dia dapat? Hanya otot sayap yang kuat dan napas yang tidak ngos-ngosan kalau harus terbang kesana kemari, tetapi memangnya dia mau diajak lomba balap?

2. Burung di dalam umbaran tidak pernah berlatih bernyanyi.

Kapan sih ada burung yang berkicau kencang ketika di kandang umbaran? Jangankan untuk berkicau, sekadar untuk menghirup napas secara perlahan dan tenang saja dia tidak sempat karena terus digoda dan digoda.

Bisa saja ada yang berkilah bahwa burung di umbaran tetap bernyanyi. Nah, kalau itu yang terjadi, namanya memang bukan pengumbaran, tetapi sekadar memindah burung dari kandang kecil ke kandang besar. Kalau seperti ini ya sama saja bukan pengumbaran karena meskipun berada di kandang besar tanpa ada treatmen, saya yakin bahwa burung juga tidak bakalan terbang muter-muter sendiri. Tidak ada kesadaran alamiah pada dirinya untuk berlatih terbang kuat dan cepat (karena secara alamiah di alamnya sana juga tidak relevan bagi dirinya). Yang relevan adalah berkicau… berlatih otot tenggorokan dan pita suara demi menarik perhatian dunia.

Maka lengkaplah sudah kombinasi dua hasil dari pengumbaran ini: Burung kuat di otot tetapi tidak berlatih bernyanyi alias nabrak-nabrak sekaligus mulut tertutup rapat = bergaya tanpa suara = berdansa tanpa bisa menyapa….

3. Top performance burung tidak bisa dipaksakan

Sebagaimana burung betina, burung jantan suka mempunyain bioritme “bulanan” (bukan berarti 30 hari, bisa kurang bisa lebih). Burung betina, mempunyai siklus internal/bioritme yang kemunculannya bisa berurutan: birahi, nelor, mengeram, mengasuh anak.

Pejantan pun sebenarnya secara alamiah mengikuti biortime pasangannya. Ketika betina nelor dan mengeram, tidak ada cerita si jantan berbirahi sendiri dan bisik-bisik mengajak si betina untuk “berselimut bersama”. Bioritme seperti ini secara alamiah ada pada pejantan atau betina yang dipetik suaranya untuk lomba,

Bisa jadi, seekor burung bisa tampil maksimal dalam berkicau di arena lomba besar sebulan dua kali, tetapi setelah itu ya..tampil amburadul. Kadang tampil kadang tidak.

Lantas apa hubungannya dengan masalah umbaran? Ya itu, seekor burung tidak bakal bisa tampil konsisten terus menerus meski diberi treatmen umbaran sedemikian rupa sehingga mempunyai kekuatan otot dan napas yang luar biasa kalau titik top performance berdasar bioritme tidak pas dengan waktu/saat lomba.

Artinya, burung umbaran atau tidak, kalau kondisi sehat, dia akan tampil maksimal di lomba jika datangnya waktu lomba tepat bersamaan dengan datangnya titik top performance dia berdasar bioritme tubuhnya.

4. Burung main umbaran berisiko mengidap latent stress.

Latent stress adalah stres yang tersembunyi. Burung yang main umbaran, yakni keluar masuk kandang besar dan kecil, kehilangan orientasi atas wilayah teritorinya. Dan hal ini menyababkan dia tidak happy dan merasa stres. Nah inilah stres yang tersembunyi itu, yakni tetap terlihat sehat secara fisik (bahkan terlihat ganas, singset, berotot) tetapi tidak sehat secara mental sehingga gagap dalam mengeluarkan suara. Ditambah lagi tidak pernah enjoy berlatih bernyanyi karena tidak pernah sempat berlatih bernyanyi mengeluarkan tembakan, ngerol-rolan dsb, mengingat setiap saat hanya disuruh “lari-lari”. Lengkap sudahlah dia jadi burung yang tidak ideal untuk lomba.

Saya di sini memang tidak akan menyebut burung apa dan punya siapa yang selalu moncer di arena lomba dalam rentang waktu yang panjang. Hanya menurut catatan saya, burung semacam itu tidak pernah dikenalkan dengan “umbaran-maniak treatment” dan hanya mengenal perawatan secara konsisten dalam hal pakan, jemur, dan mandi.

Bagaimana meraka dirawat selama ini? Rata-rata hampir sama dan tidak meleset jauh dari apa yang pernah saya tulis mengenai Kunci Utama Perawatan Burung dan Agar Burung Rajin Bernyani, Stop Pakan Sebelum Kenyang.

Silakan pendapat lain. Mangga…

Tag: , , , , ,

3 Tanggapan to “Mengapa saya anti umbaran untuk burung lomba?”

  1. bambang mulyono Says:

    betul mas…saya setuju

  2. agus ompong Says:

    makasih infonya bos…

  3. dwi Says:

    ya yg namanya burung tu tiggal karakter…..
    kyak manusia…
    ada yg crewet, ada yg pendiem, ada yg suara lantang, ada yg suara pelan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: